Rabu, 07 Oktober 2015

Techopreneurship, Success Journey for WORLD

Perkembangan dunia usaha dan industri dengan adanya globalisasi ekonomi telah meningkat tajam. Berbagai produk yang dihasilkan dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Globalisasi ekonomi dan era informasi mendorong industri menggunakan sumber daya manusia lulusan perguruan tinggi yang kompeten dan memiliki jiwa kewirausahaan. Akan tetapi tidak setiap lulusan perguruan tinggi memiliki jiwa kewirausahaan seperti yang diinginkan oleh lapangan kerja tersebut. Kenyataan menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil lulusan perguruan tinggi yang memiliki jiwa kewirausahaan. Di sisi lain, krisis ekonomi menyebabkan jumlah lapangan kerja tidak tumbuh, dan bahkan berkurang karena bangkrut. Dalam kondisi seperti ini, maka lulusan perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya mampu berperan sebagai pencari kerja tetapi juga harus mampu berperan sebagai pencipta kerja. Keduanya memerlukan jiwa kewirausahaan. Oleh karena itu, agar supaya perguruan tinggi mampu memenuhi tuntutan tersebut, berbagai inovasi diperlukan diantaranya adalah inovasi pembelajaran dalam membangun generasi technopreneurship di era informasi sekarang ini.
'"Alhamdulillaah.. Menjelang semester 8 satu persatu jalan itu mulai terbuka. Targetku untuk lolos PKM-K di semester akhir terkabul. Website kuliner Indonesia telah siap untuk launching pada akhir dari pertengahan tahun ini. Tentunya sambil menyempurnakan terus-menerus produk pertama kami ini. Yap! Website ini akan menjadi produk pertama kami. Aku mengorganisir tim yang solid untuk kelak ingin kudirikan sebuah perusahaan.

Selain itu pada bulan Maret aku terpilih menjadi salah satu peserta sebuah pelatihan kewirausahaan yang diinisiasi oleh UGM bekerjasama dengan kibar. Program ini bernama Innovative Academy. IA merupakan pelatihan kewirausahaan berbasis teknologi pertama yang diadakan oleh Kibar dan UGM. Pada pelatihan ini kami tidak diberikan modal, melainkan pertemuan dalam beberapa bulan dengan kurikulum yang telah jelas dan terarah. Dengan melihat trend perkembangan IT, maka kami diarahkan untuk membuat sebuah usaha berbasis IT. Lagi-lagi... Aku dan timku di IA sedang mempersiapkan sebuah produk yang akan kami launching pada akhir tahun ini.

Pemateri kami di kibar merupakan orang-orang muda inspiratif yang telah memulai berkarir sejak muda. Beberapa pembicaranya adalah Yansen Kamto (CEO Kibar), Benny Fajarai (CEO Kreavi), dan Guntur Sarwohadi (CEO Soybeansoft)."


 Pengembangan teknologi akan sangat berpengaruh terhadap daya saing suatu negara dalam kompetisi global. Inovasi teknologi yang kontinu dan tepat guna membutuhkan sebuah penguasaan kompetensi serta otoritas ilmiah dalam implementasi teknologi tersebut. Untuk itu diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai ahli-praktisi dalam masing-masing bidang keilmuan dan aplikasinya. Terdapat kisahmenarik dari kalangan mahasiswa yang berusaha menjadi seorang technopreneur.

 Technopreneurship merupakan sebuah istilah wirausaha yang dikhususkan bagi wirausahawan yang bergerak di bidang teknologi informasi. Bill Gates (Microsoft), Steve Jobs (Apple), Sergey Brin & Larry Page (Google), Mark Zuckenberg (Facebook), Jack Dorsey (Twitter), serta Kevin Systorm (Instagram) ialah beberapa contoh wirausahawan yang bergerak di dunia teknologi informasi.

 Technopreneruship atau Technology Entrepreneurship adalah istilah yang biasa ditujukan kepada pengusaha yang berfokus dalam bidang teknologi. Disini, pengusaha harus menjamin bahwa teknologi yang Ia jual dapat berfungsi sesuai dengan kebutuhan target pelanggan. Technopreneurship bersumber dari invensi dan inovasi.  Invensi adalah sebuah penemuan baru yang bertujuan untuk mempermudah kehidupan.  Inovasi adalah proses adopsi sebuah penemuan oleh mekanisme pasar.
            Saat ini, Technopreneurship telah menjadi program kelas bahkan jurusan di negara-negara Eropa, Amerika, dan beberapa di Negara Asia. Di Nanyang Technological University, Korea Selatan, terdapat Jurusan yang khusus untuk mendidik Mahasiswa S2 untuk menjadi seorang  Technopreneurship, yaitu Master of Science in Technopreneurship and Innovation Program. Hal ini tentu saja membuktikan bahwa Technopreneurship adalah hal yang penting dan dibutuhkan di era moderen saat ini.
 
 
Kewirausahaan adalah cara berpikir dan bertindak yang terobsesi kesempatan, pendekatan holistik dan kepemimpinan yang seimbang demi tercapai nya tujuan yang di inginkan. Inovasi adalah alat khusus pengusaha, sarana yang mengeksploitasi perubahan sebagai sebuah kesempatan di dalam bidang bisnis yang berbeda atau layanan yang berbeda. Kewirausahaan mengejar peluang tanpa memperhatikan sumber daya yang saat ini di bawah kendali seseorang.
Untuk mendefinisikan Technopreneurship (technology entrepreneurship), hal yang harus perhatikan adalah penelitian dan komersialisasi.  Penelitian merupakan penemuan dan penambahan pada ilmu pengetahuan.  Komersialisasi dapat didefinisikan sebagai pemindahan hasil penelitian atau teknologi dari laboratorium ke pasar dengan cara yang menguntungkan.  Ada sejumlah jalan untuk mengkomersialisasi teknologi, yakni: lisensi, berpartner, atau menjualnya kepada pihak lain yang akan mengkomersialisasikannya.
Teknologi merupakan cara atau metode untuk mengolah sesuatu agar terjadi efisiensi biaya dan waktu, sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih berkualitas. Dasar-dasar penciptaan tekologi adalah: kebutuhan pasar, solusi atas permasalahan, aplikasi berbagai bidang keilmuan, perbaikan efektivitas dan efisiensi produksi, serta modernisasi.
 
 
Karakteristik dari seorang technopreneur. Spirit dan karakter seorang technopreneur dibentuk oleh 3 (tiga) komponen utama pembentuk, yaitu:
-         Intrapersonal
-         Interpersonal
-         Extrapersonal.
Interpersonal dan interpersonal adalah merupakan komponen soft skill, sedangkan extrapersonal adalah mengintegrasikan kedua soft skill tersebut menjadi berguna di dalam lapangan
 
Di dunia ini banyak technopreneur yang berhasil melakukan komersialisasi teknologi sehingga menjadi produk yang diterima secara luas di pasar.  Contoh pengalaman empiris technopreneur sukses antara lain adalah Henry Ford yang menciptakan mobil Ford dan Soichiro Honda yang menciptakan mobil dan sepeda motor merk Honda.   Mereka secara individu melakukan penelitian karena hobi dan keinginannya sendiri.  Tidak semua hasil penelitiannya langsung sukses secara komersial.  Bahkan menurut Soichiro Honda, 99% perjalanan kariernya adalah kegagalan, 1% membawanya menjadi sukses.
Di Indonesia, masyarakat sangat mengenal teh botol Sosro yang diciptakan oleh Soetjipto Sosrodjojo mencipatakan teh botol Sosro. Produk ini merupakan contoh sukses inovasi yang luar biasa, karena memberikan nilai tambah, diterima oleh masyarakat luas, dan menciptakan pasar baru yang belum ada pesaingnya.
 
 
Technopreneurship dapat memberikan memiliki manfaat atau dampak, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan.  Dampaknya secara ekonomi adalah:
-         Meningkatkan efisiensi dan produktivitas
-         Meningkatkan pendapatan.
-         Menciptakan lapangan kerja baru.
-         Menggerakkan sektor-sektor ekonomi yang lain.
Pada saat ini di Indonesia secara umum, dukungan terhadap invensi dan inovasi domestik masih terbatas, belum integratif dan tidak berorientasi pasar, sehingga banyak invensi dan inovasi yang “layu sebelum berkembang”. Ada kesenjangan yang besar antara penawaran dan permintaan solusi teknologi bernilai tambah. Selain itu, dana penelitian dan pengembangan nasional masih terbatas dan kemampuan technopreneurship domestik masih rendah.
 Di dalam melakukan Technopreneurship ada beberapa hal yang harus di lakukan sebelum di lakukannya pengambilan keputusan di suatu usaha, usaha yang di lakukan Technopreneurship tidak selalu mendapatkan keuntungan, tergantung dari segi sebagaimanakah seorang pemimpin tersebut melakukan yang terbaik di dalam usaha nya.