Perkembangan
dunia usaha dan industri dengan adanya globalisasi ekonomi telah meningkat
tajam. Berbagai produk yang dihasilkan dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan
dan keinginan konsumen. Globalisasi ekonomi dan era informasi mendorong
industri menggunakan sumber daya manusia lulusan perguruan tinggi yang kompeten
dan memiliki jiwa kewirausahaan. Akan tetapi tidak setiap lulusan perguruan
tinggi memiliki jiwa kewirausahaan seperti yang diinginkan oleh lapangan kerja
tersebut. Kenyataan menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil lulusan perguruan
tinggi yang memiliki jiwa kewirausahaan. Di sisi lain, krisis ekonomi
menyebabkan jumlah lapangan kerja tidak tumbuh, dan bahkan berkurang karena
bangkrut. Dalam kondisi seperti ini, maka lulusan perguruan tinggi dituntut
untuk tidak hanya mampu berperan sebagai pencari kerja tetapi juga harus mampu
berperan sebagai pencipta kerja. Keduanya memerlukan jiwa kewirausahaan. Oleh
karena itu, agar supaya perguruan tinggi mampu memenuhi tuntutan tersebut,
berbagai inovasi diperlukan diantaranya adalah inovasi pembelajaran dalam
membangun generasi technopreneurship di era informasi sekarang ini.
Selain itu pada bulan Maret aku terpilih menjadi salah satu peserta sebuah pelatihan kewirausahaan yang diinisiasi oleh UGM bekerjasama dengan kibar. Program ini bernama Innovative Academy. IA merupakan pelatihan kewirausahaan berbasis teknologi pertama yang diadakan oleh Kibar dan UGM. Pada pelatihan ini kami tidak diberikan modal, melainkan pertemuan dalam beberapa bulan dengan kurikulum yang telah jelas dan terarah. Dengan melihat trend perkembangan IT, maka kami diarahkan untuk membuat sebuah usaha berbasis IT. Lagi-lagi... Aku dan timku di IA sedang mempersiapkan sebuah produk yang akan kami launching pada akhir tahun ini.
Pemateri kami di kibar merupakan orang-orang muda inspiratif yang telah memulai berkarir sejak muda. Beberapa pembicaranya adalah Yansen Kamto (CEO Kibar), Benny Fajarai (CEO Kreavi), dan Guntur Sarwohadi (CEO Soybeansoft)."
Pengembangan teknologi akan sangat berpengaruh terhadap daya saing suatu negara dalam kompetisi global. Inovasi teknologi yang kontinu dan tepat guna membutuhkan sebuah penguasaan kompetensi serta otoritas ilmiah dalam implementasi teknologi tersebut. Untuk itu diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai ahli-praktisi dalam masing-masing bidang keilmuan dan aplikasinya. Terdapat kisahmenarik dari kalangan mahasiswa yang berusaha menjadi seorang technopreneur.
Technopreneurship merupakan sebuah istilah wirausaha yang dikhususkan bagi wirausahawan yang bergerak di bidang teknologi informasi. Bill Gates (Microsoft), Steve Jobs (Apple), Sergey Brin & Larry Page (Google), Mark Zuckenberg (Facebook), Jack Dorsey (Twitter), serta Kevin Systorm (Instagram) ialah beberapa contoh wirausahawan yang bergerak di dunia teknologi informasi.
Technopreneruship atau Technology Entrepreneurship adalah istilah yang biasa ditujukan kepada pengusaha yang berfokus dalam bidang teknologi. Disini, pengusaha harus menjamin bahwa teknologi yang Ia jual dapat berfungsi sesuai dengan kebutuhan target pelanggan. Technopreneurship bersumber dari invensi dan inovasi. Invensi adalah sebuah penemuan baru yang bertujuan untuk mempermudah kehidupan. Inovasi adalah proses adopsi sebuah penemuan oleh mekanisme pasar.
Saat ini, Technopreneurship telah menjadi program
kelas bahkan jurusan di negara-negara Eropa, Amerika, dan beberapa di Negara
Asia. Di Nanyang Technological University, Korea Selatan, terdapat Jurusan yang
khusus untuk mendidik Mahasiswa S2 untuk menjadi seorang Technopreneurship,
yaitu Master of Science in
Technopreneurship and Innovation Program. Hal ini tentu saja membuktikan
bahwa Technopreneurship adalah hal
yang penting dan dibutuhkan di era moderen saat ini.
Kewirausahaan
adalah cara berpikir dan bertindak yang terobsesi kesempatan, pendekatan
holistik dan kepemimpinan yang seimbang demi tercapai nya tujuan yang di inginkan. Inovasi adalah alat khusus pengusaha, sarana yang
mengeksploitasi perubahan sebagai sebuah kesempatan di
dalam bidang bisnis yang
berbeda atau layanan yang berbeda. Kewirausahaan mengejar peluang tanpa
memperhatikan sumber daya yang saat ini di bawah kendali seseorang.
Untuk mendefinisikan Technopreneurship (technology
entrepreneurship), hal yang harus perhatikan adalah penelitian dan
komersialisasi. Penelitian merupakan penemuan dan penambahan pada ilmu
pengetahuan. Komersialisasi dapat didefinisikan sebagai pemindahan hasil
penelitian atau teknologi dari laboratorium ke pasar dengan cara yang
menguntungkan. Ada sejumlah jalan untuk mengkomersialisasi teknologi,
yakni: lisensi, berpartner, atau menjualnya kepada pihak lain yang akan
mengkomersialisasikannya.
Karakteristik dari seorang technopreneur. Spirit dan
karakter seorang technopreneur dibentuk oleh 3 (tiga) komponen utama
pembentuk, yaitu:
-
Intrapersonal
-
Interpersonal
-
Extrapersonal.
Interpersonal dan interpersonal
adalah merupakan komponen soft skill, sedangkan extrapersonal
adalah mengintegrasikan kedua soft skill tersebut menjadi berguna di dalam
lapangan
Di dunia ini banyak technopreneur yang
berhasil melakukan komersialisasi teknologi sehingga menjadi produk yang
diterima secara luas di pasar. Contoh pengalaman empiris technopreneur
sukses antara lain adalah Henry Ford yang menciptakan mobil Ford dan
Soichiro Honda yang menciptakan mobil dan sepeda motor merk Honda.
Mereka secara individu melakukan penelitian karena hobi dan
keinginannya sendiri. Tidak semua hasil penelitiannya langsung sukses
secara komersial. Bahkan menurut Soichiro Honda, 99% perjalanan kariernya
adalah kegagalan, 1% membawanya menjadi sukses.
Technopreneurship
dapat memberikan memiliki manfaat atau dampak, baik secara ekonomi, sosial,
maupun lingkungan. Dampaknya secara ekonomi adalah:
-
Meningkatkan efisiensi dan produktivitas
-
Meningkatkan pendapatan.
-
Menciptakan lapangan kerja baru.
-
Menggerakkan sektor-sektor ekonomi yang lain.
Pada saat ini
di Indonesia secara umum, dukungan terhadap invensi dan inovasi domestik masih
terbatas, belum integratif dan tidak berorientasi pasar, sehingga banyak
invensi dan inovasi yang “layu sebelum berkembang”. Ada kesenjangan yang besar
antara penawaran dan permintaan solusi teknologi bernilai tambah. Selain itu,
dana penelitian dan pengembangan nasional masih terbatas dan kemampuan technopreneurship
domestik masih rendah.
Di
dalam melakukan Technopreneurship ada
beberapa hal yang harus di lakukan sebelum di lakukannya pengambilan keputusan
di suatu usaha, usaha yang di lakukan Technopreneurship
tidak selalu mendapatkan keuntungan, tergantung dari segi sebagaimanakah
seorang pemimpin tersebut melakukan yang terbaik di dalam usaha nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar